Kamis, 13 Oktober 2011

Sari pati hidup

Aku ingin mendaki puncak tantangan, menerjang batu granit kesulitan, menggoda mara bahaya, dan memecahkan misteri dengan sains. Aku ingin menghirup berupa-rupa pengalaman lalu terjun bebas menyelami labirin lika-liku hidup yang ujungnya tak dapat disangka. Aku mendamba kehidupan dengan kemungkinan-kemungkinan yang bereaksi satu sama lain seperti benturan molekul uranium : meletup tak terduga-duga, menyerap, mengikat, mengganda, berkembang, terurai, dan berpencar kearah yang mengejutkan. Aku ingin ke tempat – tempat yang jauh, menjumpai beragam bahasa dan orang-orang asing. Aku ingin berkelana, menemukan arahku dengan membaca bintang gemintang. Aku ingin mengarungi padang dan gurun-gurun, ingin melepuh terbakar matahari, limbung dihantam angin, dan menciut dicengkram dingin. Aku ingin kehidupan yang menggentarkan, penuh dengan penaklukan. Aku ingin hidup! Ingin merasakan sari pati hidup!!

-Andrea Hirata-

KEUTAMAAN HARI JUM'AT

1. Hari Terbaik
Abu Hurairah z meriwayatkan bahwa Rasulullah y bersabada: "Hari terbaik dimana pada hari itu matahari terbit adalah hari Jum'at. Pada hari itu Adam diciptakan, dimasukkan surga serta dikeluarkan darinya. Dan kiamat tidak akan terjadi kecuali pada hari Jum'at

2. Terdapat Waktu Mustajab untuk Berdo'a.
Abu Hurairah z berkata Rasulullah y bersabda: " Sesungguhnya pada hari Jum'at terdapat waktu mustajab bila seorang hamba muslim melaksanakan shalat dan memohon sesuatu kepada Allah pada waktu itu, niscaya Allah akan mengabulkannya. Rasululllah y mengisyaratkan dengan tangannya menggambarkan sedikitnya waktu itu (H. Muttafaqun Alaih)

Ibnu Qayyim Al Jauziah - setelah menjabarkan perbedaan pendapat tentang kapan waktu itu - mengatakan: "Diantara sekian banyak pendapat ada dua yang paling kuat, sebagaimana ditunjukkan dalam banyak hadits yang sahih, pertama saat duduknya khatib sampai selesainya shalat. Kedua, sesudah Ashar, dan ini adalah pendapat yang terkuat dari dua pendapat tadi (Zadul Ma'ad Jilid I/389-390).

3. Sedekah pada hari itu lebih utama dibanding sedekah pada hari-hari lainnya.
Ibnu Qayyim berkata: "Sedekah pada hari itu dibandingkan dengan sedekah pada enam hari lainnya laksana sedekah pada bulan Ramadhan dibanding bulan-bulan lainnya". Hadits dari Ka'ab z menjelaskan: "Dan sedekah pada hari itu lebih mulia dibanding hari-hari selainnya".(Mauquf Shahih)

4. Hari tatkala Allah l menampakkan diri kepada hamba-Nya yang beriman di Surga.
Sahabat Anas bin Malik z dalam mengomentari ayat: "Dan Kami memiliki pertambahannya" (QS.50:35) mengatakan: "Allah menampakkan diri kepada mereka setiap hari Jum'at".

5. Hari besar yang berulang setiap pekan.
Ibnu Abbas z berkata : Rasulullah y bersabda:
"Hari ini adalah hari besar yang Allah tetapkan bagi ummat Islam, maka siapa yang hendak menghadiri shalat Jum'at hendaklah mandi terlebih dahulu ......". (HR. Ibnu Majah)

6. Hari dihapuskannya dosa-dosa
Salman Al Farisi z berkata : Rasulullah y bersabda: "Siapa yang mandi pada hari Jum'at, bersuci sesuai kemampuan, merapikan rambutnya, mengoleskan parfum, lalu berangkat ke masjid, dan masuk masjid tanpa melangkahi diantara dua orang untuk dilewatinya, kemudian shalat sesuai tuntunan dan diam tatkala imam berkhutbah, niscaya diampuni dosa-dosanya di antara dua Jum'at". (HR. Bukhari).

7. Orang yang berjalan untuk shalat Jum'at akan mendapat pahala untuk tiap langkahnya, setara dengan pahala ibadah satu tahun shalat dan puasa.
Aus bin Aus z berkata: Rasulullah y bersabda: "Siapa yang mandi pada hari Jum'at, kemudian bersegera berangkat menuju masjid, dan menempati shaf terdepan kemudian dia diam, maka setiap langkah yang dia ayunkan mendapat pahala puasa dan shalat selama satu tahun, dan itu adalah hal yang mudah bagi Allah". (HR. Ahmad dan Ashabus Sunan, dinyatakan shahih oleh Ibnu Huzaimah).

8. Wafat pada malam hari Jum'at atau siangnya adalah tanda husnul khatimah, yaitu dibebaskan dari fitnah (azab) kubur.
Diriwayatkan oleh Ibnu Amru , bahwa Rasulullah y bersabda:"Setiap muslim yang mati pada siang hari Jum'at atau malamnya, niscaya Allah akan menyelamatkannya dari fitnah kubur". (HR. Ahmad dan Tirmizi, dinilai shahih oleh Al-Bani).




Senin, 10 Oktober 2011

Sudah Mati part 2


              Kuperhatikan langit yang berwarna ungu gelap. Awan bergumpal – gumpal diujung lazuardi. Kulihat pertikaian diatas sana. Seperti kilat yang menyambar – nyambar. Bunga api memercik – mercik, warna merah, jingga, hitam, ungu, menyala-nyala. Desing peperangan. Belum pernah kulihat yang sehebat ini. Kawanku menggeram di sisi tempat yang harus dijaganya, tempat yang gelap, pekat itu seperti bara yang menggelegak. Tempat itu mengaum dahsyat, lalu meletup – letup seperti lava yang melelehkan segala yang padat dan melumat segala yang cair. Ia seperti tak sabar lagi. Menunggu – nunggu. Seperti juga seluruh manusia di seantero negeri ini. Menunggu – nunggu. Tetapi ia nampaknya harus lebih bersabar lagi. Pertikaian di langit nampaknya masih belum berakhir.

                Ku perhatikan lagi pertikaian di langit. Masih seru. Seperti Bharatayuda. Seperti Irak-Iran. Atau seperti ladang pembantaian Bosnia Herzegovina. Ah, tidak..ini lebih seru lagi. Aku berusaha menelusuri amunisi para pihak yang bertikai. Ugh, pasukan pertama dari ikhtiar para dokter yang sibuk memasang segala peralatan medis di tubuh mantan penguasa itu, pasukan lawan adalah : doa. Wah... pasukan doa ini luar biasa.
   
  Kata – kata doa itu mendengung seperti milyaran gesekan sayap indah. Dengung doa itu memekakan sarafpendengaran seluruh jagad raya. Dengung yang mengiris – iris lapisan langit dan udara. Aku menyeringai, melihat dari mana asal dengung doa itu. Dengung dari ujung pulau Sumatra, dari mulut – mulut korban DOM, mereka mengacungkan tangannya, menghiba-hiba, doa mereka aneh, meminta agar Majikanku menunda mengambil saripati tubuh mantan penguasa itu, ia harus diadili lebih dahulu, mempertanggungjawabkan ribuan nyawa yang hilang tanpa sebab. Lalu ku dengar pula doa – doa itu bersekutu dengan mantera – mantera dari beberapa paranormal di sungai tempat sang mantan biasa berendam. Mereka berkumpul di tepi sungai tempat pertemuan segala arus, dan mereka bermantra, ‘jangan dulu, Hyang Kuasa cabut nyawanya, sebab itu berarti akan mematikan sumber penghasilan kami.’  

Aku nyengir sendiri. Tapi tunggu.. ada pasukan lain yang juga mendengungkan doa mereka, mereka adalah keluarga yang kehilangan ayah, abang, ibu, paman, karena tuduhan gerakan komunis. Tetapi doa mereka seperti menelikung teman sendiri : mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati.

Gemuruh doa seperti senjata para kurawa, mendesing-desing. Menukik-nukik. Menggelegar-gelegar. Melawan ikhtiar para dokter ahli, yang sesekali beristirahat untuk konferensi pers. Pasukan ikhtiar dibantu doa – doa dari ahli waris sang sakit, jangan meninggal dulu ayahanda, engkau belum selesai membagikan hak waris tujuh turunan, dan memberikan nomor rekening, dari bank-bank mancanegara. Tunggu ayahanda, selesaikan dulu hak waris mewarisi ini, konsensi  atas perusahaan – perusahaan telekomunikasi, partai politik, dan perusahaan jalan tol dan minyak, tunggu dulu ayahanda.

Gemuruh doa dan ikhtiar, berperang, suaranya saling bersahutan. Menukik-nukik, menggelegar-gelegar, mendesing-desing, mendentum-dentum. Meninggalakan kepulan debu dan bau mesiu.

Aku terkesima

Terdengar dentang jam kota. Astaga. Aku lupa, dari daftar  perubahan pencabutan nyawa hari ini, Parmin menempati urutan pertama. Maka ku benahi sayapku, sambil menghela nafas panjang, sayang rasanya harus meninggalkan peperangan seru ini. Tetapi, sudahlah, aku harus menunaikan tugasku. Mungkin alam langit milik Parmin tidak seheboh ini. Aku meluncur terbang menuju stasiun kereta. Hujan yang mengguyur sejak tadidi selatan kota tak juga reda. Hujan lalu menyebabkan air naik, jang disebut banjir laah, Cuma air naik, kalau disebut banjir, itu berlebihan.

Aku hinggap diujung tiang listrik. Ku belai-belai sayapku yang tidak basah karena hujan. Memperhatikan Parmin yang berjalan gontai menuju gerbong kereta. Ada yang sedikit menyesak di dadaku, aku sudah tahu apa yang akan terjadi, itu sebabnya aku ingin  menangis. Sebentar lagi Parmin akan diserang penyakit lamanya, darah yang mininggi, lalu menyerang kesadarannya, lalu...

Bruk! Tubuhnya tumbang seperti batanga pisang. Air naik menelannya. Aku menengok ke kanan dan ke kiri, berharap ada manusia lain yang peduli. Aku tahu sia-sia saja, aku sudah tahu bahwa tidak akan ada yang peduli. Tubuh Parmin perlahan tenggelam, masih kulihat gelembung udara di air yang berwarna coklat itu. Tetapi tunggu, kudongakan kepalaku menatap langit di atas tubuh Parmin. Ada juga gemuruh doa. Tetapi tidak ada pertikaian. Gemuruh saja, sendirian. Gemuruh doa berasal dari mulut Narmi, yang sedang shalat Ashar, tangannya menengadah dan matanya terpejam. Doanya sapu jagat, meminta kebaikan dunia akhirat. Dunia Parmin mengecil dan akhirat mendatanginya. Gelembung udara di air kotor makin sedikit. Aku menunggu detik – detik tanggung jawabku. Tak ada pertikaian, sebab Parmin tidak pernah melukai siapapun kecuali dirinya sendiri, ia tidak penting didoakan kecuali oelh Narmi. Langit bersih, cerah, tak ada kepul debu dan mesiu. Aku merasa tidak akan kesulitan menjemputnya. Benar saja, cahaya putih dari tubuh Parmin itu begitu ringan. Kawanku yang menunggu tempat terindah dengan bau kesturi, pepohonan rindang dan sungai – sungai madu, seperti tak sabar menunggu. Parmin berbau harum, aku erat memeluknya dan mengantarnya seperti raja.

Jam kota berdentang satu kali. Sekarang saatnya. Ku tengok perang telah reda. Pasukan ikhtiar kalah oleh gemuruh pinta. Pinta dari kaum terdzolimi yang naik turun tak henti – henti. Mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati.

Sudah, ia sudah mati.

dikutip dari buku :

Sudah Mati part 1

Karya : Izzatul Jannah              

komentar admin : cerpen yang indah, kekuatannya ada pada kedalaman pikiran sang penulis, hal yang mengesankan terdapat pada sudut pandangnya. Pecinta sastra tentu harus membacanya..












                ‘sudah mati, pak?’

                ‘belum, masih dipasang ventilator..’ Parmin membesarkan radio tua itu, menegtuk-ngetuknya jika suaranya berkeresek-keresek, seperti tertiup angin ribut. Sesekali ia merapatkan jaket lusuhnya, menahan gigil. Tak hanya dingin, juga kepalanya yang seakan-akan digodam palu.
                ‘kasihan ya...’

                ‘Hmmmm...’ Parmin mengepalkan tangannya. Ada ribuan kunang-kunang di depan matanya. Tapi, Narmi tak akan percaya jika ia bilang sakit. Orang seperti mereka tak berhak sakit.
                Narmi melanjutkan menjahit kemeja suaminya yang robek, persis di bagian ketiak. Sesekali ia membetulkan letak kaca matanya yang melorot menuruni ujung hidungnya yang pesek. ‘kenapa ya pak?’

‘apanya?’

‘Kok, tidak mati – mati..’

Parmin menutup telinganya yang terasa berdenging dengan kedua tangannya. ‘Terlalu banyak kali...’

‘apanya?’

‘ya semuanya..’

‘semuanya bagaimana?’         

‘Harta haramnya, dosanya, kebaikannya, jasanya, anaknya, yayasannya, perusahaannya... rekeningnya... dendam orang –orang kepadanya... harapan orang – orang padanya.. semuanya!!’
               
            Narmi tidak menyadari bahwa suara Parmin bergetar. ‘memangnya kenapa kalau terlalu banyak semua-muanya itu?’
            
           Parmin hanya mendengus. Kali ini Parmin tidak mampu menjelaskan pada istrinya. Kalaupun ada penjelasan, paling ngawur bin asbun, tidak seperti anailisis para kolumnis yang kritis dan mendesis-desis itu. Parmin memijit-mijit kepalanyayang sejak kemarin terasa berdenyut – denyut dan kini semakin terasa kencang berdenyut. Darah tinggi, darah yang meninggi, nyaris merobek nadi di kepalanya.
       
         ‘sudah?’

         ‘apanya?’
        
        ‘jahitnya! Aku kedinginan ini..’ Parmin membelalakan mata pada istrinya. Angin yang menghembus dari celah – celah kardus gubuk mereka, membuat bulu kuduknya meremang, terasa dingin di ujung – ujung tubuh, membuat denyut di kepalanya semakin mendera.
               
          ‘Oh, ku kira menanyakan dia sudah mati atau belum. Sebentar lagi... lagian, robek kok besar amat... nah selesai. Lain kali, kalau nyuci gerbong pelan – pelan, jangan sampai robek lagi, susah njahitnya...’
          
         Parmin tersenyum kecut. Ia mengenakan kembali kemejanya yang berwarna entah itu. Putih bukan, abu – abu bukan. Lalu beranjak bangkit, menyingkap  pintu plastik di depannya. Gerbong – gerbong itu masih menunggu untuk dicuci, lumayan, seribu lima ratus per-gerbong, sekedar beli garam agar nasinya tak terlalu dingin.

               ‘sudah ya. Aku kerja lagi..’ parmin berpamitan pada istrinya. Tanpa cium tangan-pipi seperti pamitan para selebriti. Narmi hanya mengangguk.
             
              ‘Bu..’ Parmin masuk lagi. Wajahnya pucat, seakan menahan sakit teramat sangat. Narmi mengerutkan kening.
              
            ‘dari tadi rasanya dingin, kamu juga?’
          
            ‘Juga apa?’
      
            ‘Dingin?’
  
            Narmi meraba lengannya sendiri, lalu meraba tengkuknya, mengendus udara sekitar gubuk kardus mereka.
        
           ‘Ndak e...panas malah, ni.. eh, Pak... kamu kenapa Pak?’ Narmi gugup melihat suaminya terlihat pucat.
              
          ‘nggak papa, Bu... sudahlah, aku pergi dulu!’ kali ini Parmin melangkah tanpa menengok-nengok lagi.
              
           Akulah yang  membuat Parmin merasa dingin, tetapi tidak terasa pada Narmi, karena belum waktunya. Parmin mungkin sebentar lagi. Aku tadi diminta untuk menengoknya, setelah perintah untuk melakukan pekerjaanku di rumah sakit orang – orang kaya itu ditunda. Begitulah perintah atasanku : TUNDA DULU!


Ilmu Psikologi Haram Dipelajari??


Sambil menambah wawasan sekaligus menetralkan pemikiran yang terlanjur terkontaminasi oleh media-media nasionalis, saya lantas membuka beberapa web media yang islamis. Dalam salah satu rubrikasi, ada satu tema yang menarik dan memaksa saya untuk menelisik lebih jauh. Rubrik tersebut bertema (bukan berjudul) “Haramnya Belajar Ilmu Psikologi”.

Terkejut bukan main, karena dalam rubrik konsultasi tersebut, si empunya rubrik secara tersirat menyarankan kepada si penanya yang sedang mempelajari ilmu psikologi umum untuk meninggalkan ilmu tersebut dan beralih mempelajari ilmu psikologi Islam. Alasannya, imu psikologi umum adalah ilmu yang berasal dan dikembangkan oleh Yahudi (Sigmon Freud). Ilmu tersebut, menurutnya bermaksud menjauhkan pembelajarnya dari Tuhan dengan lebih mengedepankan logika semata. Contohnya dalam ilmu psikologi ada yang namanya pskiodiagnostik. Dalam ilmu tersebut kita dapat mengetahui karakter sesorang dari gambar yang dibuatnya. Misalmya, bila Anda adalah seorang muslimah dan menggambar diri Anda lengkap dengan jilbab, maka Anda secara psikologi didiagnosa sebagai manusia yang “tidak mau mendengar orang lain”, karena jelas tidak akan terlihat organ telinga dalam gambar muslimah berjilbab. Selain ilmu psikologi, ternyata ilmu pendidikan pun dikategorikan sama dengan psikologi, yaitu sama-sama “disarankan” untuk ditinggalkan.

Apakah anda sepakat? Saya, tentu saja tidak sepakat karena bagi saya, dan sepanjang pengetahuan saya, ada yang namanya “hikmah”. Definisi hikmah adalah hal yang dimiliki umat muslim yang tercecer dimana saja dan bisa kita ambil untuk kebaikan diri kita. Misalnya, ketika kita tahu bahwa Yahudi adalah umat yang gila sekolah (menuntut ilmu), saking gilanya, dalam jumlah 50 orang penduduknya pasti ada 1 orang yang bergelar doktor. Nah, hikmah yang dapat kita ambil adalah semestinya kita pun mengikuti gilanya Yahudi dalam “menuntut ilmu”.

Pun sama halnya dengan ilmu psikologi, selama kita berniat untuk terus belajar demi kebaikan kita dan masyarakat umumnya. Selama ilmu psikologi tidak membuat kita murtad. Selama ilmu psikologi dan ilmu-ilmu lainnya tidak membuat kita jauh dari Tuhan, kenapa harus dihindari? Toh dengan kemampuan berpikir saya yakin kita dapat memilah dan memilih (menyaring) mana hal yang sepatutunya kita terima dan mana yang tidak kita terima. Meskipun dalam psikologi umum, misalnya, ada yang bertentangan dengan dogma-dogma agama toh pasti tidak semuanya bertentangan dengan dogma dan pasti ada yang bermanfaat bagi seluruh manusia secara universal.

Lagipula, diluar ilmu agama, ilmu model apa sih sekarang ini yang bebas dari pemikiran Yahudi? Harus diakui bahwa ilmu-ilmu umum saat ini banyak yang dikembangkan kaum Yahudi.

Kini saya semakin mengamini sebuah pendapat mengapa saat ini umat Islam semakin mundur? Mengapa dari segi Iptek umat Islam malah berkiblat kepada Barat, padahal sesungguhnya jaman dahulu Islam pernah menjadi kiblat Iptek dengan ilmuwan-ilmuwan sekaliber Aljabar dan Ibnu Sina! Mengapa saat ini negara muslim banyak yang miskin? Salah satu variabelnya adalah dengan adanya “pengharaman-pengharaman” untuk mempelajari ilmu-ilmu, selain ilmu agama. Jadi bila pola pikir mayoritas umat Muslim masih seperti itu, menurut saya, wajar bila hanya dengan jumlah lebh kurang lima juta Yahudi mampu menguasai dunia. Padahal, sesungguhnya bila umat Muslim mampu mengamalkan konsep “tuntutlah ilmu hingga ke negeri Cina”, jangankan Israel , saya yakin dunia pun bisa dikuasai.




dikutip dari http://dumalana.com/2011/07/25/ilmu-psikologi-haram-dipelajari/

Benjamin Franklin (1706 - 1790) said..

A countryman between two lawyers is like a fish between two cats.
Benjamin Franklin

A good conscience is a continual Christmas.
Benjamin Franklin

A slip of the foot you may soon recover, but a slip of the tongue you may never get over.
Benjamin Franklin

All human situations have their inconveniences. We feel those of the present but neither see nor feel those of the future; and hence we often make troublesome changes without amendment, and frequently for the worse.
Benjamin Franklin

All would live long, but none would be old.
Benjamin Franklin

An investment in knowledge always pays the best interest.
Benjamin Franklin

Anger is never without Reason, but seldom with a good One.
Benjamin Franklin

At 20 years of age the will reigns, at 30 the wit, at 40 the judgment.
Benjamin Franklin

Be civil to all; sociable to many; familiar with few; friend to one; enemy to none.
Benjamin Franklin

Be slow in choosing a friend, slower in changing.
Benjamin Franklin

Beware of the young doctor and the old barber.
Benjamin Franklin

Content makes poor men rich; discontentment makes rich men poor.
Benjamin Franklin

Do not anticipate trouble, or worry about what may never happen. Keep in the sunlight.
Benjamin Franklin

Drive thy business or it will drive thee.
Benjamin Franklin

Early to bed and early to rise makes a man healthy, wealthy, and wise.
Benjamin Franklin

Educate your children to self-control, to the habit of holding passion and prejudice and evil tendencies subject to an upright and reasoning will, and you have done much to abolish misery from their future and crimes from society.
Benjamin Franklin

Employ thy time well, if thou meanest to get leisure.
Benjamin Franklin

Energy and persistence conquer all things.
Benjamin Franklin

Genius without education is like silver in the mine.
Benjamin Franklin

Glass, china, and reputation are easily cracked, and never well mended.
Benjamin Franklin

God heals, and the doctor takes the fees.
Benjamin Franklin

Having been poor is no shame, but being ashamed of it, is.
Benjamin Franklin

He is ill clothed that is bare of virtue.
Benjamin Franklin

He that blows the coals in quarrels that he has nothing to do with, has no right to complain if the sparks fly in his face.
Benjamin Franklin

He that can have patience can have what he will.
Benjamin Franklin

He that falls in love with himself will have no rivals.
Benjamin Franklin

He that is good for making excuses is seldom good for anything else.
Benjamin Franklin

He that is of the opinion money will do everything may well be suspected of doing everything for money.
Benjamin Franklin

He that lives upon hope will die fasting.
Benjamin Franklin

He that would live in peace and at ease, must not speak all he knows nor judge all he sees.
Benjamin Franklin

Minggu, 09 Oktober 2011

AKU

Kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

Maret 1943

NOTA BENE : AKU KANGEN

Lunglai - ganas karena bahagia dan sedih,
indah dan gigih cinta kita di dunia yang fana.
Nyawamu dan nyawaku dijodohkan langit,
dan anak kita akan lahir di cakrawala.
Ada pun mata kita akan terus bertatapan hingga berabad-abad lamanya.

Juwitaku yang cakap meskipun tanpa dandanan
untukmu hidupku terbuka.
Warna-warna kehidupan berpendar-pendar menakjubkan
Isyarat-isyarat getaran ajaib menggerakkan penaku.
Tanpa sekejap pun luput dari kenangan padamu
aku bergerak menulis pamplet, mempertahankan kehidupan.
 
 
 

Jakarta, Kotabumi, 24 Maret 1978
Potret Pembangunan dalam Puisi

Sabtu, 01 Oktober 2011

BELUKAR

PADA SEMAK BELUKAR
DI ATAS CADAS DI UJUNG ALAM
KAKI-KAKI MEMBUKA JEJAK
AMBANG

RIMBUN RIMBA MENGAKAR
DAN HUJAN DI BAWAH KERING SUNGAI
JEJAK-JEJAK MEMBAWA TANYA
HILANG

DAN BIARKAN TERSESAT
BEBAS KITA MERAYAP !
MENCARI-NYA DALAM PUSARAN

LALU BIARPUN TERSESAT
BEBAS KITA MERAYAP !
SAMPAI JUA DI PUSARAN

SESAAT TERSESAT
JERAT

SESAAT TERSESAT
KASAT

SESAAT TERSESAT
SARAT

SESAAT TERSESAT
SEMANGAT !!!


EMPAT PEMBERANI
DI BUMI CIBUNTU, 21-02-2010
Egi Fikri Ardia, Wildan Nuuhamzah, Radix Khoerul Insan, Ossy Asokawati
(diambil dari catatan Egi Fikri Ardian)




SMANDARIKAL bersyair..

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More